Rabu, 20 Februari 2013

PostHeaderIcon Bukan yang Pertama

Hari sudah larut malam tapi kimi belum juga tertidur, kamar berantakan, buku-buku, bantal guling berceceran dimana-mana, bahkan tisu punjuga banyak yang berjatuhan.Tetes demi tetes air mata mengalir deras di pipinya, penyesalan pun selalu menghantuinya setiap waktu. Tangisan terisak-isak itupun masih berlanjut hingga pukul 23.00 wib.Hingga suatu saat mamanya mendengar sesuatu dikamar anak kesayangannya itu. “Tok…tok…tok” “Kimi… buka pintunya” ucap sang mama. Kimi pun mulai membersihkan air mata yang ada di pipinya lalu membuka pintu kamarnya. “iya mama, ada apa..?” kata kimi sambil menunduk supaya mamanya tidak curiga kalau kedua matanya bengkak. “Kimi ada apa ini, kenapa kamarmu berantakan seperti ini, terus kenapa mukamu kusam, mata kamu juga bengkak nak..? apa yang sebenarnya terjadi ?” ucap mama sambil khawatir. “Enggak ma, nggak ada apa-apa kok, paling cuma kecapean aja kok ma” ucap kimi menyembunyikan sesuatu agar tidak diketahui oleh mamanya. “Mama jadi curiga, oh yasudahlah..inikan sudah larut malam sebaiknya kamu buruan tidur, lagian kan besok juga sekolah pagi-pagi.” Pinta mama. “Iya mama” jawab kimi sambil menghembuskan nafas lega dan dalam hatinya “untung mama enggak curiga kalau aku abis diputusin sama Tommy berengsek itu.” “Kring…kring…kring” alarm pun berbunyi menunjukkan pukul 05.30 pagi dimana kimi harus pergi ke sekolah. “Hah…!!! Suara itu muncul dari mulut Kimi beberapa kali.Kimi pun mulai beranjak dari tempat tidurnya kemudian menuju ke kamar mandi untuk siap-siap berangkat sekolah. Mamanya yang sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk anak kesayangannya ini. “Ma kimi berangkat ya..?” pamit kimi kepada mamanya dengan muka murung, kimi pun tak lupa mencium tangan mamanya dan itu adalah kebiasaannya sebelum berangkat sekolah. “Kamu enggak makan dulu nak..?” Tanya mama. “Udah ma nanti disekolah aja, daa mama” Kimi mencium pipi kanan mamanya dan segera meninggalkan rumah.Mamanya tak lupa menyelipkan uang jajan ke tasnya. Kimi pun segera mengambil sepeda dan mengayuhnya dengan lemas tanpa daya. Sesampainya disekolahan Kimi pun dengan muka murung langsung duduk di mejanya sendirian dan melamun tak seperti biasanya yang selalu ceria. Tiba-tiba seorang cewek menghampirinya yaitu Hani namanya, dia adalah teman dekat Kimi sewaktu SD, tapi juga teman dekat sampai SMA sekarang ini. “Woy Kim, ngapain pagi-pagi gini melamun..?” kata Hani sambil menepuk bahu Kimi sehingga membuat Kimi kaget. “Aduh Hani loe tu ngagetin aja deh” ucap kimi dengan muka bĂȘte. “Ada apa sih Kim sebenernya tu, kalau ada masalah cerita donk sama gue,siapa tau aku bias membantu” sahut Hani dengan penasaran. “Gini Han kemarin tu gue abis diputusin sama Tommy, padahal kan gue masih sayang sama dia dan anehnya lagi tu setelah mutusin gue paginya udah jalan sama cewek lain, gimana gue gak sedih coba ?” ujar Kimi sambil menitiskan air mata. “Ow… jadi gitu masalahnya, emang sih Tommy itu cowok berengsek, dari awal gue lihat lo jadian sama dia aja gue udah punya prasangka buruk, sebaiknya lo lupain aja Tommy, lagian banyak cowok lain yang lebih baik dari pada si playboy kayak gitu, mendingan lo senyum deh jangan manyun gitu, kan jadi jelek” ujar Hani. “Iya-iya gue emang salah jatuh cinta sama cowok kayak gitu” jawab Kimi dengan nada menyesal. Perbincangan mereka pun diakhiri karena bel masuk berbunyi.Pelajaran pertama pun dimulai. Hari ini adalah pelajaran paling membosankan, bikin ngantuk, tentunya adalah pelajaran Bahasa Indonesia konon nyatanya setiap guru ini mengajar tak ada satupun anak yang mendengarkannya karena dengan alasan guru ini neranginya lama banget, ngebetein dan bikin ngantuk.


Tapi inilah kenyataannya. “Tok..tok..tok” Beberapa kali kemudian pintu kelas pun diketuk diikuti beberapa langkah kaki kearah Ibu Yuni yang sedang mengajar, siapa lagi kalau bukan Devan sesosok cowok yang kerjaannya telat mulu kalau ke sekolah “Maaf Bu saya datang terlambat lagi ke sekolah” ujar Devan dengan nada kelelahan. “Kamu itu ya..kerjaannya Cuma terlambat, terlambat dan terlambat, sudah gak ada maaf lagi , sekarang keluar kelas dan bersihkan sampah yang ada di halaman sekolah mengerti…!!” ucap Ibu Yuni dengan nada keras. Semua murid di kelas pun diam menyaksikan kejadian itu dan kembali melanjutkan pelajaran yang tertunda sementara Devan dengan muka pasrah memungguti sampah-sampah di halaman sekolah. Pukul 14.00 wib bel pulang pun berbunyi, semua anak berhambur-hamburan untuk pulang ke rumahnya masing-masing salah satunya Kimi dan Hani, teman karib julukannya, karena dimana-mana selalu berdua kemanapun. Hani pulang duluan karena sang Ibu sudah menjemputnya di depan sekolahan, dan Hani pun pulang sambil melambai-lambaikan tangan pada Kimi yang mau mengambil sepeda di parker. “Daaa Kimi, duluan ya…?” seru Hani. “Iya-iya Han..hati-hati ya”. Begitulah mereka berdua sebelum pulang sekolah. Kimi pun segera pulang sekolah sambil mengayuh sepedanya, tiba-tiba di tengah jalan dia merasa ada yang tidak enak.Kimi pun langsung melihat kearah ban belakang dan ternyata bannya itu kemps. “Aduh siall..!! gimana ini” sambil clingap-clingup dan merasa cemas karena gak ada tambal ban disekitar jalan ini. “Aduh mati gue..!! harus nuntun ni sepeda sampai rumah” ucap Kimi dengan muka kesal sambil nendang-nendang sepedanya, padahal jarak kerumahnya masih lumayan jauh. Dan sepertinya mendung pun petang dan hujan pun akan segera turun. Kimi berlari-lari sambil menuntun sepeda kempesnya dengan tergesa-gesa karena takut kehujanan.Nasib sial pun sepertinya jatuh pada kimi dan ternyata hujan pun turun, awalnya sih rintik-rintik tapi akhirnya tambah deras ditambah hempasan angin, sialnya lagi ditambah cipratan air dijalan yang mengenai muka dan seragam Kimi. “Woy sialan loe, kalau naik motor ati-ati ya !!” ucap Kimi dengan muka marah. Pengendara itu pun mematikan gas motornya dan menoleh untuk meminta maaf pada kimi dan ternyata itu Devan. “Apa..gue gak denger !!”ujar Kimi kesal. Devan pun menghampiri Kimi lebih dekat . “Gue gak sengaja..!!”ucap Devan dengan muka kesal. “Makanya kalau naik motor tu liat-liat deh jangan asal nyelonong gitu, kalau gini kan yang jadi korbannya kan gue” kata Kimi dengan tubuh mengigil akibat kedinginan. “Lagian sih loe ngapain coba pake dituntun segala tu sepeda, gak bisa dipakai apa ??” ucap Devan. “Loe gak liat ban gue kempes hah..!!” jawab Kimi dengan bentakan. Akhirnya pertengkaran mereka terhenti saat Devan meminta maaf pada Kimi dan Devan pun menawarkan untuk mengantarkan Kimi pulang ke rumahnya dan Kimi pun dengan terpaksa menyetujui ajakan Devan. “Gimana Kim, loe mau gak gue anter, dari pada loe kedinginan disini.” “Yaudah deh gue mau, tapi ikut nitipin sepeda ni sepeda ke rumah deket jalan sini ya?” “Yaudah mana sepedanya gue titipin.” Tawar Devan Setelah selesai menitipkan sepeda Kimi segera naik ke motor gede milik Devan yang pastinya keren. “Pakai helmnya..? oya mantelnya juga..” “Iya-iya bawel..!!” Kimi dan devan dari dulu memang kaya kucing sama anjing, gak pernah akur sama sekali. Keduanya pun melanjutkan perjalanan, di tengah perjalanan pulang dengan tidak sadar karena kecapekan Kimi tertidur di punggung Devan. Devan pun tau kalau Kimi menyenderkan kepalanya ke punggungnya lalu Devan memegang tangan Kimi karena khawatir kalau nanti Kimi terjatuh. Sesampainya di rumah Kimi, Devan membangunkannya. “Kim udah sampai nih di rumah loe..?” kata Devan. Kimi pun dengan cepat membuka matanya dan bangun dari tidurnya, dia kaget kepalanya nempel di punggung Devan. “Astaga gue ketiduran tadi..?” “Iya loe ketiduran tadi pas di jalan, yaudah sana masuk ke dalam ?” suruh Devan. Kimi pun tak lupa berterimakasih pada Devan. “Dev makasih ya udah mau nganter gue sampai rumah” sahut Kimi dengan muka lemas dan pucat. “Iya sama-sama Kim, eh loe sakit ya Kim mukamu pucat gitu” ucap Devan cemas. Belum sempat menjawab, Kimi langsung pingsan di pelukan Devan dan Devan pun langsung menggendong Kimi ke dalam rumahnya. Mamanya Kimi pun syok melihat Kimi pingsan dan pucat. Devan pun menjelasaknnya tentang kejadian yang menimpanya tadi. Ibunya pun menjelaskan sedikit hal pada Devan kalau Kimi itu memang gak tahan dingin.Mamanya Kimi pun tak lupa berterimakasih kepada Devan yang telah rela mengantar Kimi pulang.Lalu Devan pun pamit untuk pulang dan tak lupa memberi ucapan kata pada Kimi agar cepat sembuh. Sesampainya di rumah Devan pun terus memikirkan Kimi, perasaannya aneh biasanya berantem tapi sekarang kangen, khawatir lebih tepatnya atau malah jadi suka sama Kimi, untuk menghilangkan perasaannya yang campur aduk kemudian Devan mengirim pesan sms pada Kimi. “Malam Kimi, cepet sembuh ya..jangan lupa minum obat..? Oke..” Kimi pun menerima pesan dari Devan dengan senyum kegirangan dan membalasnya, mereka berdua pun dengan asyik malah smsan. Kimi pun juga sama, sepertinya dia juga mulai jatuh cinta sama Devan. Bahkan mereka janjian untuk berangkat sekolah bersama. Pagi pun tiba, Kimi mulai siap-siap untuk berangkat sekolah, wajahnya lain, biasanya murung E...tiba-tiba jadi riang begini, mamanya saja heran. Kimi pun pamit untuk berangkat sekolah pada sang mama. “Ma berangkat sekolah dulu ya daa...” ucap Kimi sambil keluar rumah dan Devan pun dengan cool duduk di atas motornya sambil memberikan senyuman manis pada Kimi dan Kimi pun membalasnya. “Ayo Kim buruan naik.” ujar Devan. “Oke” lanjut Kimi. Mereka pun berangkat sekolah bersama dengan senang. Sesampai di sekolah anak-anak pada iri melihat mereka berdua dan heran kenapa mereka jadi akrab, apalagi cewek-cewek yang ngefans sama Devan secara gitu dia ganteng, manis, cool, keren, baik lagi siapa sih yang gak suka sama Devan. Sesamainya di ruang kelas semua mata tertuju pada mereka berdua apalagi Hani sahabatnya Kimi. “Ciee...ciee udah dapet yang baru ni” ucap Hani tertawa nyindir. “Apaan sih loe Han..?” lanjut Kimi dengan malu-malu. Devan dan Kimi pun saling memandang dengan malu, kemudian duduk di bangkunya masing-masing. Pelajaran pun di mulai dan kali ini gurunya Bu Yuni lagi, dan beruntunglah Devan selamat dari omelan Bu Yuni karena baru kali ini dia datang tepat waktu, siapa lagi kalau bukan karena Kimi dia mau berangkat pagi. Di dalam kelas Devan hanya melamun bahkan tertawa sendiri kayak orang gila, di dalam hatinya Cuma ada Kimi, Kimi dan Kimi. Bu Yuni pun tidak jadi memuji Devan lagi melainkan menyuruhnya untuk mengerjakan hal-hal yang berisi hukuman. Kimi pun senyum-senyum kecil seperti meledek, Devan pun dengan muka kesal keluar kelas sambil mengerjakan hukuman dari Bu Yuni. “Ah sial masa setiap sekolah harus di hukum kayak gini” ujar Devan kesal. Siang pun tiba bel sekolah pun berbunyi. ”Kim pulang sekolah main yuk, aku pengen ngajak kamu ke suatu tempat” pinta Devan ke Kimi. “Oke” lanjut Kimi tersenyum ke arahnya sambil mengangguk menyetujui. Di tarik satu tangan Kimi dan mereka berdua pergi keluar kelas kemudian mereka meninggalkan pekarangan sekolah. Setelah beberapa saat mereka jalan berdua sampailah mereka ke sebuah taman, ditemani gemercik air dengan suara merdu dan bunga-bunga yang bermekaran di sore hari membuat suasana semakin romantis. Mereka pun duduk berdua, Devan pun mulai mengungkapkan perasaannya ke Kimi. “Kimi..aku cinta kamu, aku sayang banget sama Kimi, selama ini aku salah, aku kira kamu itu cewek yang jutek dan egois, selama ini gak ada yang buat hidupku bahagia kayak gini, kamu berbeda dari cewek yang lainnya dan aku tau kok kamu itu baik. Aku bener-bener sayang kamu Kimi..dari detik ini hingga nanti. Kimi pun hanya bisa menanggis bahagia di pelukan Devan dan terhanyut oleh kata-kata Devan yang sangat indah itu. Kimi pun juga menjawab dalam bisikan lirih “Aku juga sayang kamu Devan..” Taman itu menjadi saksi kisah cinta mereka berdua, hanya kesunyian, sepi, di tambah hembusan angin dan terbenamnya sang mentari yang membuat suasana semakin romantis.

0 komentar:

Posting Komentar

About Me

Diberdayakan oleh Blogger.